Pendapatan Nasional, Teori Tentang Pertumbuhan Ekonomi Dan Struktur Ekonomi

 BAB I

PENDAPATAN NASIONAL, TEORI TENTANG PERTUMBUHAN EKONOMI DAN STRUKTUR EKONOMI

 

1.1 GNP dan GDP

    Pendapatan dan pertumbuhan ekonomi Nasional adalah merupakan salah satu indikator ekonomi makro yang sangat penting. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa makin maju pembangunan ekonomi suatu negara makin besar pendapatan nasionalnya, baik secara total maupun perkapita (dengan asumsi laju pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk). Besarnya pendapatan nasional perkapita, juga umum digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu negara. Walau, indikator ini bukanlah alat ukur. yang terbaik, karena kesejahteraan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan nasional perkapita. tetapi juga oleh distribusinya. Pengalaman Indonesia sebelum krisis menunjukkan bahwa tingkat pendapatan nasional perkapita sudah mencapai US$ 1 .600, namun persentase penduduk yang betul-betul sejahtera sangatlah kecil.

    Secara umum dapat dipahami bahwa pendapatan nasional ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk kepentingan masyarakat seluruhnya, maupun untuk masing-masing golongan dalam masyarakat. Sebagai petani misalnya, mempunyai kepentingan dan sangat terpengaruh dengan adanya perubahan-perubahan pendapatan nasional, di mana apabila pendapatan nasional menurun misalnya, maka harga-harga untuk hasil pertanian akan ikut menurun. Demikian pula pengaruhnya terhadap tenaga kerja dan kesempatan kerja, apabila produksi nasional turun/ pendapatan nasional turun, maka berakibat kepada turunnya kesempatan kerja dan meningkatkan pengangguran. Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode,biasanya selama satu tahun. Indikator yang paling penting dalam mengukur kondisi perekonomian suatu negara dalam periode tertentu adalah Gross National Product (GNP) atau Produk Nasional Bruto (PNB).

1.   Gross National Product (GNP)

    Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut. Kemampuan untuk meningkatkan pendapatan nasional, terlihat dari perkembangan produk domestik Brutonya atau produk nasional brutonya, atau besaran pendapatan nasionalnya. Apabila perkembangan tersebut memperlihatkan peningkatan setiap tahunnya, maka dapat dikatakan bahwa negara tersebut memiliki prestasi ekonomi yang cukup baik, walaupun pendapatan nasional yang dinilai dengan ukuran agregat ini bukanlah satu-satunya ukuran untuk menilai prestasi ekonomi suatu bangsa.

    Penilaian terhadap GNP ini dilakukan dari waktu ke waktu yakni setiap tahun, bahkan biasanya dibandingkan dengan negara lain terutama negara yang berada dalam level kondisi ekonomi yang relatif sama. Perhitungan pendapatan nasional yang menghitung nilai produk barang dan juga yang dihasilkan masyarakat dalam suatu perekonomian yang dinyatakan dalam satu tahun tertentu dan apabila dilakukan setiap tahun secara terus menerus, maka dari penambahan yang terjadi pada setiap tahunnya itu, menunjukkan suatu pertumbuhan yang sering dijadikan pula sebagai ukuran untuk menyatakan laju pertumbuhan ekonomi.

     Oleh karena itu, disatu pihak pendapatan nasional menunjukkan tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai pada suatu tahun, sedangkan dilain pihak pertumbuhan ekonomi itu sendiri merupakan perubahan tingkat pendapatan yang berlaku dari tahun ke tahun. Produk Nasional Bruto (GNP) adalah nilai Produk nasional (berdasarkan harga pasar) dari jumlah semua barang-barang terakhir dan jasa-jasa yang dihasilkan dalam satu tahun termasuk barang-barang konsumsi maupun barang-barang modal, yang meliputi :

1).  barang-barang modal baru yang merupakan tambahan pada jumlah peralatan modal yang sudah ada maupun

2). barang-barang yang dimaksud untuk mengganti sebagian atau seluruh peralatan barangbarang yang lama.

    Setiap tahun dilakukan penyusutan/depresi (deprecation) atas barang-barang modal (gedunggedung, pabrik-pabrik, mesin-mesin dan sebagainya) karena sudah menjadi keharusan untuk mempergunakan pula mesin-mesin yang baru dan modern agar kita tetap dapat bersaingan dengan perusahaan-perusahaan lain. Kita sudah hams memakai mesin-mesin baru, sekalipun peralatan lama yang ada pada kita mungkin secara teknis masih bisa dipakai untuk beberapa tahun lagi. Barang-barang modal dimaksudkan untuk mengganti (replacement) karena ada penyusutan tadi yang pada hakekatnya tidak menambah kekayaan barang modal kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu, penggantian harus dimasukkan pula dalam nilai produksi barang-barang terakhir dari tahun yang bersangkutan. Dengan kata lain, bagian untuk replacement adalah termasuk dalam pengertian bruto produk nasional bruto atau GNP. Kondisi di atas akan sangat mempengaruhi GNP, sehingga GNP akan berubah pada setiap tahun.

    Ditinjau dari besarnya GNP maka setiap negara memiliki GNP yang berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Hal ini dapat dilihat pada besarnya GNP per capita masing-masing Negara. Namun di lain sisi walaupun GNP suatu negara cukup besar tetapi bila jumlah penduduknya sangat besar maka GNP per kapita negara yang bersangkutan akan menjadi sangat kecil. Jika dikaitkan dengan penapat Winardi tersebut maka kasus seperti yang dialami bangsa Indonesia sekitar tahun 1973-1980-an, GNP Indonesia merupakan GNP terbesar dari negara-negara ASEAN bahkan melebihi beberapa negara di ASIA, namun disatu sisi karena jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar maka GNP per kapita Indonesia tetap berada pada tingkat yang rendah atau lebih kecil dari negara -negara tetangga di ASEAN maupun di ASIA.

Susunan GNP Menurut Winardi (1983), susunan GNP sangat tergantung pada beberapa faktor, seperti :

a)      Struktur Ekonomi

Setiap negara memiliki struktur ekonomi untuk meningkatkan GNP-nya yang masih didasarkan pada berbagai kegiatan ekonomi seperti masih berperannya sektor-sektor tertentu secara lebih dominan misalnya masih berorientasi pada kegiatan sektor pertanian atau pada kegiatan sektor industri atau pada sektor jasa. Namun sering terlihat bahwa banyak negara yang mengkombinasikan struktur ekonomi negaranya dalam meningkatkan GNP.

b)      Kebutuhan-Kebutuhan

Suatu perekonornian negara akan menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa yang diperuntukkan bagi kepentingan bangsa atau rakyatnya dengan pengecualian bila ada kegiatan ekspor-impor yang dilakukan oleh Negara yang bersangkutan.

c)      Pembentukan Modal

Masa depan suatu bangsa akan sangat bergantung pada apa yang disebut dengan tabungan pemerintah dimana setiap negara akan berusaha meningkatkan tabungan dengan harapan akan memperbesar barang barang modalnya dimana makin besar tabungan suatu negara maka semakin besar produksi barang modal.

Untuk itu GNP dibagi dalam empat kategori pokok, masing-masing adalah sebagai berikut :

·         Konsumsi Masyarakat (C)

·         Investasi Swasta ( I )

·         Pengeluaran Pemerintah (G)

·         Ekspor Netto (X)

dimana rumus GNP dapat diturunkan sebagai berikut :

GNP (Y) = C + I + G + ( X - M)

 

2.    Gross Domestic Product (GDP)

    Produk domestik domestik bruto (Gross Domestic Product Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor. Jumlah produk berupa uang dan jasa yang dihasilkan oleh unit- unit produksi di dalam batas wilayah suatu Negara selama satu tahun, dalam perhitungannya termasuk hasil produksi dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/ orang asing yang beroperasi di wilayah yang bersangkutan.

    Dalam perekonomian suatu negara terdapat suatu indikator yang digunakan untuk menilai apakah perekonomian berlangsung dengan baik atau buruk. Indikator dalam menilai perekonomian tersebut harus dapat digunakan untuk mengetahui total pendapatan yang diperoleh semua orang dalam perekonomian. Indikator yang pas dan sesuai dalam melakukan pengukuran tersebut adalah Gross Domestic Product (GDP). GDP per kapita yang merupakan besarnya GDP apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk di suatu negara merupakan alat yang lebih baik yang dapat memberitahukan kita apa yang terjadi pada rata-rata penduduk, standar hidup dari warga negaranya.

    Dalam hal pengukuran, GDP mencoba menjadi ukuran yang meliputi banyak hal, termasuk di dalamnya adalah barang – barang yang diproduksi dalam perekonomian dan dijual secara legal di pasaran. GDP juga memasukkan nilai pasar dari jasa perumahan pada perekonomian. GDP meliputi barang yang dapat dihitung (makanan, pakaian, mobil) maupun jasa yang tidak dapat dihitung (potong rambut, pembersihan rumah, kunjungan ke dokter). GDP mengikutsertakan barang dan jasa yang sedang diproduksi. GDP mengukur nilai produksi dalam batas geografis sebuah negara. GDP mengukur nilai produksi yang terjadi sepanjang suatu interval waktu. Biasanya, interval tersebut adalah setahun atau satu kuartal (tiga bulan). GDP mengukur aliran pendapatan dan pengeluaran dalam perekonomian selama interval tesebut. Sedangkan hal – hal yang tidak dapat diukur oleh GDP yaitu GDP mengecualikan banyak barang yang diproduksi dan dijual secara gelap, seperti obat – obatan terlarang.

    Setelah mengetahui apa yang dapat dan tidak diukur dengan GDP, selanjutnya kita harus mengetahui komponen – komponen dari GDP. GDP (yang ditunjukkan sebagai Y) dibagi atas empat komponen : konsumsi (c), investasi (I), belanja negara (G), dan ekspor neto (NX):

Y = C + I + G + NX

Persamaan ini merupakan persamaan identitas – sebuah persamaan yang pasti benar dilihat dari bagaimana variabel - variabel persamaan tersebut dijabarkan. Komponen tersebut ialah :

a).   Konsumsi (consumption) adalah pembelanjaan barang dan jasa oleh rumah tangga.

b). Investasi (investment) adalah pembelian barang yang nantinya akan digunakan untuk memproduksi lebih banyak barang dan jasa

c). Belanja pemerintah (government purchases) mencakup pembelanjaan barang dan jasa oleh pemerintah daerah, negara bagian, dan pusat (federal).

d).  Ekspor neto (net exports) sama dengan pembelian produk dalam negeri oleh orang asing (ekspor) dikurangi pembelian produk luar negeri oleh warga negara (impor)

    Untuk mendapatkan ukuran dari jumlah produksi yang tidak dipengaruhi oleh  perubahan harga, kita menggunakan GDP riil (real GDP) yang menilai produksi barang dan jasa pada harga tetap. GDP riil menggunakan harga tahun pokok yang tetap untuk menentukan nilai produksi barang dan jasa dalam perekonomian. Karena GDP riil tidak dipengaruhi perubahan harga, perubahan GDP riil hanya mencerminkan perubahan jumlah barang dan jasa yang diproduksi. Jadi, GDP riil merupakan ukuran produksi barang dan jasa dalam perekonomian. Selain GDP riil, alat ukur yang lain yaitu GDP nominal. GDP nominal mengukur produks barang dan jasa yang dinilai dengan harga – harga di masa sekarang. GDP nominal dalam perhitungannya dipengaruhi kenaikan jumlah barang atau jasa yang diproduksi dan juga kenaikan harga barang atau jasa tersebut


1.2 Teori Tentang Pertumbuhan Ekonomi Menurut Pandangan Historia, Klasik, Dan Neo Klasik

    Pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat yang menyebabkan peningkatan jumlah produksi barang dan jasa di suatu negara pada periode tertentu. Dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik akan membawa dampak positif bagi perkembangan perekonomian khususnya bagi sektor-sektor perekonomian yang berhubungan dengan pendapatan nasional. Pertumbuhan ekonomi suatu negara biasanya diukur dengan mempergunakan data tentang Produk Domestik Bruto (GDP) yang mengukur pendapatan total setiap orang dalam perekonomian di negara tersebut.

Banyak teori-teori yang membicarakan tentang permodelan pertumbuhan ekonomi antara lain :

  1. Model pertumbuhan Solow, yang digunakan bagi penghitungan dalam ketersediaan modal, ketersedian angkatan kerja dan kemajuan teknologi yang saling berkaitan antar satu dengan lainnya dalam perekonomian dan bagaimana pengaruhnya terhadap output barang dan jasa dari suatu negara.
  2. Model pertumbuhan endogen, dimana model ini dipergunakan sebagai akibat dari penolakan mereka terhadap asuransi yang dipergunakan Solow tentang perubahan teknologi secara eksogen dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara.
  3. Model Harrod-Domar, dimana model ini digunakan dengan memperhitungkan investasi dan barang-barang modal

 

A. Teori Pertumbuhan Ekonomi Historis

    Teori historis adalah teori mengenai pertumbuhan ekonomi suatu wilayah yang menitikberatkan pada aspek kesejarahan serta aspek step-by-step dari pertumbuhan suatu wilayah. Disini, masyarakat dianggap harus melewati beberapa tahapan terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa sukses menjadi negara maju. Tahap-tahap tersebut antara lain adalah tahapan tradisional, pre-industrialisasi, industrialisasi, hingga tahapan modern. Ahli-ahli ekonomi yang berkontribusi banyak pada teori ekonomi historis antara lain adalah

1)      Frederich List

Menurut List, pertumbuhan ekonomi dikelompokkan menurut kebiasaan masyarakat dalam menjaga kelangsungan hidupnya melalui tata cara produksi. Kurang lebih pengelompokan ini terdiri atas 4, yakni:

·         Berburu dan mengembara (bergantung pada alam)

·         Beternak dan bertani

·         Bertani dan kerajinan

·         Kerajinan, industri, dan perniagaan

2)      Werner Sombart

Kalo menurut Werner, pertumbuhan ekonomi terjadi karena masyarakat memiliki susunan organisasi dan ideologi masyarakat. Kalo menurut Werner ada 3 zaman nih gais, yaitu:

· Zaman Perekonomian Tertutup, yaitu masyarakat masih terbatas dalam menghasilkan barang dan dilakukan secara kekeluargaan.

·   Zaman Kerajinan dan Pertukaran, yaitu sudah ada pembagian kerja dalam masyarakat.

·   Zaman Kapitalis, yaitu ketika sudah ada pemilik modal

3)      Walt Whitman Rostow

Menurut Rostow, dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara akan mengalami tahapan-tahapan berikut:

·   Tradisional, ekonomi didominasi sektor pertanian

·   Transisi (pre take-off), terjadi perubahan struktur tenaga kerja dari pertanian ke industri

·   Lepas Landas (take-off), ketika hambatan dalam struktur sosial dan politik dapat diatasi

·   Menuju Kematangan (drive to maturity), serikat buruh dan dagang semakin maju

·  Konsumsi Tinggi (high mass consumption), tenaga kerja didominasi tenaga kerja terdidik dan penduduk di kota lebih besar dari desa.

4)      Bruno Hildebrand

Bruno memiliki pandangan yang cukup unik nih dibanding tokoh yang lain. Menurut Bruno, pertumbuhan ekonomi dimulai dari alat tukar-menukar yang dilakukan masyarakat, yaitu:

·        Masa tukar-menukar barang (barter)

·        Masa tukar-menukar dengan uang (jual beli)

·        Masa tukar-menukar dengan kredit

·       Karena memiliki pandangan seperti ini, bisa dinyatakan bahwa Bruno memandang pertumbuhan ekonomi bukan dari segi produksi atau konsumsi, melainkan dari segi distribusi, ya.

 

5)      Karl Bucher

Terakhir, Bucher mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara didasarkan oleh hubungan konsumen dengan produsen. Tahapan pada teori ini adalah:

·       Rumah Tangga Tertutup, masyarakat hanya memenuhi kebutuhan kelompoknya sendiri

·        Rumah Tangga Kota, sudah muncul hubungan dagang antar desa dan desa dengan kota

·        Rumah Tangga Bangsa/Kemasyarakatan, perdagangan antar kota akan membentuk satu kesatuan masyarakat yang melakukan pertukaran dagang dalam negara

·       Rumah Tangga Dunia , yaitu masa dimana perdagangan telah melewati masa-masa negara, seperti saat ini nih.

 

B. Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik

    Teori ekonomi klasik dipelopori oleh David Ricardo dan Adam Smith. Jika teori historis berusaha menjelaskan tahapan-tahapan pertumbuhan ekonomi, maka teori klasik berusaha menguraikan faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan tersebut.

Menurut para ekonom klasik, terdapat setidaknya 2 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan perekonomian suatu negara. Faktor tersebut antara lain adalah

  • Jumlah penduduk (meliputi persebaran serta pertumbuhannya)
  • Ketersediaan kekayaan alam dan modal
    Kedua faktor ini saling berhubungan satu dengan yang lainnya dalam menunjang pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun, jumlah keduanya tentu saja ada batasnya. Salah satu konsep dasar dalam teori ini adalah adanya sejenis subsistence living atau suatu angka pengeluaran minimum suatu individu untuk hidup layak. Ketika produk domestik bruto per kapita meningkat dari angka tersebut, maka akan mendorong pertumbuhan penduduk.

    Ketika jumlah penduduk bertumbuh, maka ekonomi akan bertumbuh juga, tetapi tidak pada laju yang sama dengan pertumbuhan penduduk. Hal ini terjadi karena ada efek diminishing returns dari penambahan tenaga kerja pada suatu perekonomian. Pada suatu titik, justru produk domestik bruto per kapita akan menurun, sehingga kesejahteraan masyarakat ikut menurun. Penurunan kesejahteraan masyarakat ini akan berimplikasi pada penurunan laju pertumbuhan penduduk pula, sehingga mengurangi jumlah penduduk. Hal ini akan terjadi berulang-ulang sehingga menciptakan sejenis siklus perekonomian. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi tidak bisa lebih tinggi dari angka ekulibrium yang sudah ada di alam.

Pandangan ini identik dengan pandangan pesimistik Malthus dalam kependudukan ataupun pandangan fisis determinisme dalam ilmu geografi.

Kelemahan Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik

Secara umum, terdapat 2 kritik yang cukup besar terhadap teori pertumbuhan ekonomi klasik. Kritik tersebut antara lain adalah

  • Tidak dipertimbangkannya aspek perkembangan teknologi. Model klasik pertumbuhan ekonomi sama sekali tidak memperhatikan peningkatan efisiensi produksi karena inovasi teknologi. Oleh karena itu, ketika dikontekskan kedalam dunia nyata, teori ini tidak terlalu akurat.
  • Kurang akuratnya penentuan gaji dan pendapatan. Disini, tidak dipertimbangkan aspek-aspek mikro ekonomi yang dapat menyebabkan pendapatan seseorang menjadi lebih tinggi atau lebih rendah dari tingkat subsisten. Selain itu, tidak dipertimbangkan juga peran lobby dan serikat buruh dalam menentukan pendapatan seorang pekerja.

 

C. Teori Ekonomi Neo-Klasik

    Teori Neo-Klasik berkembang sejak tahun 1950-an. Terus berkembang berdasarkan analisis-analisis mengenai pertumbuhan ekonomi menurut pandangan ekonomi klasik. Ahli ekonomi yang menjadi perintis dalam mengembangkan teori 12 pertumbuhan tersebut adalah Robert Solow, yang kemudian diikuti oleh beberapa ahli lainnya seperti Edmund Phelps, Harry Johnson dan J.E. Meade. Dalam analisa Neo Klasik pertumbuhan ekonomi tergantung pada pertambahan dan penawaran faktor-faktor produksi dan tingkat kemajuan teknologi sebab perekonomian akan tetap mengalami tingkat kesempatan kerja penuh dan kapasitas alat-alat modal akan digunakan sepenuhnya dari waktu ke waktu. Dalam teori ini disebutkan bahwa rasio capital output atau rasio modal produksi dapat dengan mudah berubah. Dengan kata lain, untuk menciptakan sejumlah output tertentu, dapat digunakan berbagai kombinasi antara pemakai modal dan tenaga kerja. Apabila modal yang digunakan lebih besar, maka lebih kecil tenaga kerja yang diperlukan. Sebaliknya, apabila modal yang digunakan lebih terbatas maka lebih banyak tenaga kerja yang digunakan. Kondisi semacam ini dapat dijelaskan dalam gambar di bawah ini (Arsyad, 1992: 56).

    Dalam teori pertumbuhan Neo Klasik fungsi produksi adalah seperti yang ditunjukkan oleh M1 dan M2 dan sebagainya. Dalam fungsi produksi yang demikian suatu tingkat produksi tertentu dapat diciptakan dengan menggunakan berbagai gabungan modal dan tenaga kerja. Untuk menciptakan produksi sebesar M1 gabungan modal dan tenaga kerja yang dapat digunakan antara lain adalah (1) K3 dengan L3, (2) K2 dengan L2 dan (3) K1 dengan L1. Dengan demikian, walaupun jumlah modal berubah tetapi terdapat kemungkinan bahwa tingkat produksi tidak mengalami perubahan. Di samping itu jumlah produksi dapat mengalami perubahan walaupun jumlah modal tetap. 13 Modal M1 M2 K3 K2 K1 Tenaga Kerja L3 L’3 L2 L1 Gambar 2.1 Kemungkinan Produksi Dalam Teori Neo Klasik Sumber : Ekonomi Pembangunan (Lincolin Arsyad, 1992). Misalnya jumlah modal tetap sebesar K3, jumlah produksi dapat diperbesar menjadi M2 apabila tenaga kerja yang digunakan ditambah dari L3 menjadi L’3. Teori pertumbuhan Neo Klasik mempunyai banyak variasi, tetapi pada umumnya didasarkan pada fungsi produksi Codd-Douglas.