DISTRIBUSI PENDAPATAN DI INDONESIA DAN JUGA MEMAHAMI TENTANG TERJADINYA KEMISKINAN
BAB I
DISTRIBUSI PENDAPATAN DI INDONESIA DAN JUGA
MEMAHAMI TENTANG TERJADINYA KEMISKINAN
1.1
Kurva
Lorenz
Kurva lorenz adalah presentasi grafis dari ketimpangan pada sebuah sistem. Secara khusus, kurva lorenz digunakan dalam pengukuran koefisien gini, yakni salah satu indikator target pembangunan dalam rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerataan pembangunan masih merupakan isu utama dalam penyelenggaraan negara. Baik Indonesia maupun dunia internasional memiliki pekerjaan rumah yang berat, yakni memastikan bahwa hasil dari kegiatan perekonomian dinikmati secara merata oleh semua orang. Meski begitu, adanya ketimpangan ekonomi merupakan hal yang mutlak terjadi mengingat tidak semua orang punya akses ke sumber daya yang sama. Mengendalikan ketimpangan ini merupakan tugas bersama yang harus dilakukan dengan cermat berdasarkan data yang valid. Kurva ini kerap disertai dengan garis diagonal lurus dengan kemiringan 1. Kemiringan ini mewakili kesetaraan dalam distribusi pendapatan atau nilai kekayaan. Di bawahnya, ada kurva lorenz yang menunjukkan distribusi yang diamati.
Kurva Lorenz yaitu kurva yang menggambarkan fungsi
distribusi pendapatan kumulatif. Jika kurva Lorenz tidak diketahui, maka
pengukuran ketimpangan distribusi pendapatan dapat dilakukan dengan rumus
koe1isien Gini yang dikembangkan oleh Gini (1912). Kurva lorenz memperlihatkan
hubungan kuantitatif aktual antara persentase jumlah penduduk penerima
pendapatan tertentu dari totalpenduduk dengan persentase pendapatan yang benar
benar mereka peroleh daritotal pendapatan selamam1 tahun semakin jauh jarak
kurva lorenz dari garis diagonal (yang merupakan garis pemerataan sempurna)
maka semakin timpang atau tidak merata distribusi pendapatannya. Kurva Lorenz
sejatinya dapat digunakan untuk mengukur ketimpangan apapun bentuknya.
Penghitungannya dimulai dengan mengukur secara empiris nilai kekayaan atau
total pendapatan, serta bagaimana distribusinya dalam suatu populasi
masyarakat.
Data kemudian disajikan dalam bentuk grafis yang dapat
digunakan langsung sebagai kurva lorenz. Ekonom atau ahli statistik juga
mungkin menggunakan kurva lain yang mewakili fungsi kontinu, namun kurva lorenz
memberikan informasi yang lebih terperinci mengenai distribusi kekayaan atau
pendapatan. Dalam Kurva Lorenz terdapat dua sumbu yaitu Sumbu Horizontal dan
Sumbu Vertikal. Sumbu Horizontal menunjukkan bagian kumulatif penduduk dari 0
sampai 100%. Sumbu Vertikal bagian kumulatif kekayaan atau pendapatan dari
paling miskin sampai paling kaya. Semakin dekat kurva dengan garis diagonal,
semakin kecil tingkat ketidakmerataan atau makin sempurna pembagian
pendapatannya.
1.2 Rasio
Gini
Rasio Gini atau koefisien adalah alat mengukur derajat ketidakmerataan distribusi penduduk. Ini didasarkan pada kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari suatu variable tertentu (misalnya pendapatan) dengan distribusi uniform (seragam) yang mewakili persentase kumulatif penduduk. Koefisien Gini (Gini Ratio) adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Koefisien Gini dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada. Perhatikan gambar berikut:
Dari gambar di atas, sumbu horisontal menggambarkan
prosentase kumulatif penduduk, sedangkan sumbu vertikal menyatakan bagian dari
total pendapatan yang diterima oleh masing-masing prosentase penduduk tersebut.
Sedangkan garis diagonal di tengah disebut “garis kemerataan sempurna”. Karena
setiap titik pada garis diagonal merupakan tempat kedudukan prosentase penduduk
yang sama dengan prosentase penerimaan pendapatan. Semakin jauh jarak garis
kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat ketidakmerataannya.
Sebaliknya semakin dekat jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi
tingkat pemerataan distribusi pendapatannya. Pada gambar di atas, besarnya
ketimpangan digambarkan sebagai daerah yang diarsir. Dari uraian di atas dapat
dikatakan bahwa suatu distribusi pendapatan makin merata jika nilai Koefisien
Gini mendekati nol (0). Sebaliknya, suatu distribusi pendapatan dikatakan makin
tidak merata jika nilai Koefisien Gininya makin mendekati satu.
Rumus Gini Ratio:
GR
= 1 - ∑fi [Yi + Yi-1]
Ket : fi = jumlah persen (%) penerima pendapatan kelas ke i.
Yi = jumlah kumulatif (%) pendapatan pada kelas ke i.
Nilai GR terletak antara nol
sampai dengan satu.
Bila GR = 0, ketimpangan
pendapatan merata sempurna, artinya setiap orang menerima pendapatan yang sama
dengan yang lainnya.
Bila GR = 1 artinya
ketimpangan pendapatan timpang sempurna atau pendapatan itu hanya diterima oleh
satu orang atau satu kelompok saja
1.3 Kriteria
Bank Dunia
Bank
Dunia, dalam upaya mengukur ketimpangan pendapatan, membagi penduduk menjadi 3
kelompok, yaitu kelompok 40 persen penduduk berpendapatan rendah, kelompok 40
persen penduduk berpendapatan menengah, dan kelompok 20 persen penduduk
berpendapatan tinggi. Ketimpangan pendapatan ditentukan berdasarkan besarnya
jumlah pendapatan yang diterima oleh kelompok 40 persen penduduk berpendapatan
rendah, dengan kriteria sebagai berikut:
- Bila persentase pendapatan yang diterima oleh kelompok tersebut lebih kecil dari 12 %, berarti tingkat ketimpangan sebaran pendapatan tergolong “tinggi”.
- Bila kelompok tersebut menerima 12 % sampai 17 % dari total pendapatan, berarti tingkat
ketimpangan sebaran pendapatan “sedang”.
- Bila kelompok tersebut menerima 12% samapai 17% dari total pendapatan, berarti tingkat
ketimpangan sebaran pendapatan “sedang”.
1.4 Faktor
Faktor penyebab terjadinya kemiskinan
1. Tingkat Pendidikan
yang Masih Rendah
Faktor penyebab kemiskinan yang pertama
adalah tingkat pendidikan yang tergolong masih rendah. Seperti yang telah
disebutkan sebelumnya, pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi
setiap orang. Bila seseorang tidak memenuhi kebutuhan pokoknya, tersebut tidak
dapat dipenuhi oleh orang tersebut, dapat disimpulkan bahwa itulah penyebab
kemiskinan.
Dalam konteks ini penyebab
kemiskinan adalah kebutuhan pokok yang merupakan pendidikan. Tingkat pendidikan
yang rendah mengakibatkan seseorang cenderung kurang memiliki keterampilan,
wawasan, dan pengetahuan yang memadai untuk kehidupannya. Sedangkan untuk dunia
kerja maupun dunia usaha, pendidikan adalah modal untuk bersaing dalam
mendapatkan kesejahteraan nantinya. Oleh karena itulah, terjadi banyak
pengangguran dan penyebab kemiskinan disebabkan oleh tingkat pendidikan yang
rendah ini.
2.
Masih Terbatasnya Lapangan Pekerjaan
Faktor penyebab kemiskinan yang
kedua adalah keterbatasan lapangan pekerjaan. Dengan terbatasnya lapangan
kerja, masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhannya, karena dengan bekerjalah
seseorang mendapatkan upah yang nantinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan
pokoknya tersebut.
Keterbatasan lapangan pekerjaan akan
membawa konsekuensi penyebab kemiskinan pada masyarakat. Bisa saja seseorang
menciptakan lapangan kerja baru, tetapi kemungkinannya akan sangat kecil untuk
masyarakat miskin karena keterbatasan keterampilan maupun modal. Banyaknya
pengangguran di suatu negara bisa juga menjadi patokan kemiskinan di suatu
negara. Semakin besar jumlah pengangguran maka semakin bertambah pula penyebab
kemiskinan di negara tersebut. Hal ini juga bisa disebabkan oleh
ketidakstabilan ekonomi dan ketidakpastian arah politik dan kebijakan negara
tersebut.
3.
Malas Bekerja
Faktor penyebab kemiskinan yang
berikutnya adalah malas bekerja. Hal ini yang paling sering menjangkiti
seseorang yang tak ingin maju dan beranggapan bahwa kemiskinan itu adalah
takdir. Hal-hal tersebut membuat seseorang tidak bergairah dan bersikap acuh
tak acuh untuk bekerja, dan mengantarkan mereka kepada kemiskinan dan membuat
kesejahteraannya menghilang.
4.
Keterbatasan Modal.
Seseorang miskin sebab
mereka tidak mempunyai modal untuk melengkapi alat maupun bahan dalam rangka
menerapkan keterampilan yang mereka miliki dengan suatu tujuan untuk memperoleh
penghasilan. Keterbatasan modal juga menghambat perkembangan seseorang. Apalagi
untuk orang yang memiliki tingkat pendidikan rendah, tidak hanya modal
material, orang tersebut juga akan memiliki keterbatasan modal keterampilan
atau pengetahuan. Hal ini tentunya menjadi penyebab kemiskinan yang juga cukup
serius.
Seseorang yang mempunyai anggota
keluarga banyak apabila tidak diimbangi dengan usaha peningakatan pendapatan
akan menimbulkan kemiskinan karena semakin banyak anggota keluarga akan semakin
meningkat tuntutan atau beban untuk hidup yang harus dipenuhi.
5.
Keterbatasan Sumber Daya Alam
Suatu masyarakat bisanya akan
dilanda kemiskinan salah satunya karena keterbatasan sumber daya alam ataupun
sumber modal. Hal ini terjadi karena alam sekitar yang memang tidak lagi
memberikan keuntungan. Ketika sumber daya alam miskin atau tidak dapat diolah
lagi, itulah salah satu penyebab kemiskinan. Terkadang hal tersebut terjadi
memang bukan karena kehendak masing masing orang
Bisa saja hal tersebut terjadi
karena bencana alam yang melanda suatu daerah. Bencana alam akan menyebabkan
semua potensi alam, infrastruktur maupun kondisi psikologis orang orang yang
terdampak mengalami kerusakan. Kadang memang hal tersebut akan dapat diatasi
dan kadang bahkan tidak ada yang bisa berbuat apa apa. Untuk mengatasi
kerusakan kerusakan tersebut biasanya juga dibutuhkan waktu yang sangat lama.
Selain itu, dari bencana alam, banyak orang orang yang kehilangan harta
bendanya, sehingga langsung jatuh miskin setelah itu.