PENGELUARAN KONSUMSI MASYARAKAT DAN PENGELUARAN PEMERINTAH

 BAB 10

PENGELUARAN KONSUMSI MASYARAKAT DAN PENGELUARAN PEMERINTAH

1.1  Perilaku Konsumsi Masyarakat

    Menurut Suryani (2008:6) perilaku konsumsi adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok dan organisasi dan proses yang dilakukan untuk memilih, mengamankan, menggunakan dan menghentikan produk, jasa, pengalaman atau ide untuk memuaskan kebutuhannya dan dampaknya terhadap konsumen dan masyarakat. Perilaku konsumsi juga memiliki pengertian sebagai perilaku seorang konsumen baik secara individu atau masyarakat luas untuk melakukan tindak konsumsi yang selalu berubah dan bergerak sepanjang waktu.

    Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran permintaan tingkat konsumsi tersebut, diantaranya: Tingkat pendapatan perkapita masyarakat. Cita rasa maupun selera konsumen pada barang tersebut. Harga barang lain terutama barang yang sifatnya pelengkap dan pengganti.

Dalam perekonomian ada beberapa pendekatan yang mempelajari perilaku konsumen, antara lain pendekatan tradisional dan pendekatan modern.

1. Pendekatan Tradisional

Menurut pendekatan ini, setiap barang mempunyai dayaguna atau utilitas, oleh karena barang tersebut pasti mempunyai kemampuan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen yang menggunakan barang tersebut. Jadi bila orang meminta suatu jenis barang, pada dasarnya yang diminta adalah dayaguna barang tersebut.

2. Pendekatan Modern

Pendekatan ini menggunakan analisa regresi yang secara praktis digunakan untuk memperkirakan permintaan.

 

1.2  Pola Konsumsi Masyarakat

    Pola konsumsi merupakan susunan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. Pendapat lain menyatakan pola konsumsi adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan yang dimakan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok. Pola konsumsi dapat dikenali berdasarkan alokasi penggunaannya. Untuk keperluan analisis,secara garis besar alokasi pengeluaran konsumsi masyarakat digolongkan dalam dua kelompok penggunaan, yaitu pengeluaran untuk makanan dan pengeluaran untuk non-makanan

A. Makanan

·         Padi-padian

·         Umbi-umbian

·         Ikan

·         Daging

·         Telur dan susu

·         Buah-buahan

B. Non-makanan

·         Bahan perawatan badan (sabun, pasta gigi, parfum, dsb)

·         Bacaan (Koran, majalah, buku)

·         Komunikasi

·         Kendaraan bermotor

·         Transportasi

·         Pembantu dan sopir

# Faktor yang mempengaruhi pola konsumsi :

a. Faktor tingkat pengetahuan : Tingkat pengetahuan memegang peranan penting dalam pola konsumsi masyarakat. Jika tingkat pengetahuan gizi seseorang tinggi, maka semakin tinggi pula peranan penanganan anak-anak dalam keluarga tentang pemilihan bahan makanan.

b. Faktor ketersedian pangan : Yang dimaksud dengan ketersediaan pangan adalah kondisi tersdianya pangan yang mencakup makanan dan minuman yang berasal dri tumbuhtumbuhan/ tanaman, ternak, ikan serta turunanya bagi penduduk di suatu wilayah tertentu. Bila produksi pertanian suatu wilayah rendah apat menyebabkan pendapatan seorang petani berkurang, kemiskinan dan kurangnya pangan yang tersedia untuk dimakan, ini dapat menyebabkan timbulnya kelaparan dan kurang gizi.

c. Faktor sosial ekonomi : Keadaan ekonomi dalam keluarga memegang perana paling penting dan sangat mempengaruhi pola konsumsi keluarga. Seperti contoh, keluarga dari golongan miskin, sebagian besar menggunakan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan makanan sehingga dapat mempengaruhi status gizi dari masyarakat tersebut.

d. Faktor sosial budaya : Faktor budaya masyarakat di suatu wilayah peranan yang kuat berpengaruh terhadap sikap pemilihan bahan makanan yang akan dikonsumsi. Faktor sosial budaya ini berkembang di masyarakat sesuai dengan kondisi lingkungan, agama, adat, dan istiadat.

# Cara menilai pola konsumsi :

Menurut Supariasa, dkk, 2002, ada tiga cara untuk menilai konsumsi makanan yaitu metode kualitatif, metode kuantitatif, dan meode kualitatif dan kuantitatif.

a. Metode kualitatif : Metode yang bersifat kualitatif biasanya untuk mengetahui frekuensi makan, frekuensi konsumsi menurut jenis bahan makanan dan menggali informasi tentang kebiasaan makan ( food habits) serta cara-cara memperoleh bahan makanan tersebut. Metode-metode pengukuran konsumsi makanan bersifat kualitatif yaitu metode frekuensi makan (food frecuency), metode riwayat makan (dietary history), metode tepon dan metode pendaftaran makanan (food list).

b. Metode kuantitatif : Metode secara kuantitatif dimaksudkan untuk mengetahui jumlah makanan yang dikonsumsi sehingga dapat menghitung konsumsi zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) atau daftar lain yang diperlukan seperti Daftar Ukuran Rumah Tangga (URT), Daftar Konversi Mentah-Masak (DKMM), dan Daftar Penyerapan Minyak. Metode – metode untuk pengukuran konsumsi secara kuantitatif antara lain metode recall 24 jam, perkiraan makanan (estimated food record), penimbangan makanan (food weighing), metode food account, metode inventaris (inventory method), dan pencatatan (household food record).

Menurut Sanjur (1997) dalam Supariasa, dkk, 2002, metode pengukuran konsumsi makanan di tingkat individu, antara lain :

a. Merode reccal 24 jam : Prinsip merode recall 24 jam, dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Recall 24 jam minimal dilakukan 2 kali berturut-turut dapat menghasilkan gambaran asupan zat gizi lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian individu.

b. Metode pemikiran makanan (estimated food record) : Metode ini digunakan untuk mencatat jumlah makanan yang dikonsumsi. Pada metode ini responden di minta mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari sebelum makan dalam ukuran rumah tangga atau menimbang dalam ukuran berat alam periode tertentu (2-4 hari berturut-turut), termasuk cara persiapan dan pengolahan makanan tersebut.

c. Metode penimbangan makanan (food weighing) : Dalam metode penimbangan, responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama sehari penuh. Penimbangan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dari tujuan, dana penelitian, dan tenaga yang tersedia.

d. Metode riwayat makan (dietary history) : Metode riwayat makan bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola konsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama. Dapat dilakukan dalam 1 minggu, 1 bulan, ataupun 1 tahun.

e. Metode frekuensi makanan (food frequency) : Metode frekuensi makanan bertujuan untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan atau tahun. Dengan metode ini dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif, tetapi karena periode pengamatannya lebih lama dan dapat membedakan individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi zat gizi maka cara ini paling sering digunakan dalam penelitian epidemiologi gizi.

f. Beda jenis konsumsi Skor Beda Jenis Konsumsi (BJK) dihitung dar banyak bahan makanan yang dikonsumsi selama 24 jam melalui tanya ulang. Hanya beberapa jumlah bahan lain dihitung sebagai bahan makanan tercampur dengan lemak, minyak yang sedikit dipakai.

#Adapun cara menghitung Beda Jenis Konsumsi adalah :

1) Data konsumsi bahan pangan per orang/keluarga disusun menurut daftar yang paling banyak ke sedikit.

2) Untuk makanan campuran susunlah jenis bahan pangan yang penting saja (tidak termasuk bumbu-bumbu)

3) Hitung banyaknya pemakaian menurut jenis bahan :

a) Jenis bahan yang dipakai lebih dari satu kali dihitung hanya sekali. Misalnya : nasi untuk makan pagi, siang dan malam.

b) Jenis bahan yang termasuk ke dalam makanan jajanan dihitung terpisah. Misalnya : biscuit dan kue (sumber tenaga), bayam dan pisang ( sumber pengatur).

c) Jenis minyak/lemak yang dipakai untuk menggoreng atau menumis tidak dihitung. Banyak jenis bahan pangan yang tertera di dalam daftar jenis bahan pangan disebut sebagai skor Beda Jenis Konsumsi Selanjutnya penilaian kualitas biasanya menggunakan tabel ragam konsumsi, dikategorikan menjadi baik ≥12 jenis bahan makanan, cukup 8-11 jenis bahan makanan, sedang 5-7 jenis bahan makanan, dan buruk ≤ 4 jenis bahan makanan

 

1.3  Dimensi Ketimpangan Pengeluaran Konsumsi

    Melalui perbandingan-perandingan perilaku dan pola konsumsi masyarakat, telah disingkap adanya kesenjangan antara masyarakat perdesaan dan masyarakat perkotaan. Pengeluaran konsumsi masyarakat dapat pula difungsikan untuk mendeteksi ketimpangan kemakmuran antar lapisan masyarakat, sebab sebagaimana diketahui kesenjangan kemakmuran dapat diukur baik dengan pendekatan pendapatan maupun pendekatan pengeluaran.

    Dengan mengelompokan distribusi pengeluaran masyarakat ke dalam persepuluhan atau desil (decile) dapat diketahui ketimpangan pengeluaran penduduk. Selanjutnya, bisa pula dihitung indeks atau rasio gini masyarakat yang bersangkutan secara keseluruhan sebagai satu totalitas. Disamping, berdimensi spasial atau antar daerah yakni antara daerah perdesaan dan daerah perkotaan, perbedaan atau ketimpangan pengeluaran konsumsi masyarakat juga terjadi dalam dimensi antar lapisan pengeluaran itu sendiri. Terdapat pula diskrepansi pengeluaran konsumsi yang berdimensi regional atau antar wilayah, yakni antara propinsi yang satu dan propinsi lain di tanah air.

    Pola konsumsi masyarakat berbeda antarlapisan pengeluaran. Terdapat kecenderungan umum bahwa semakin rendah kelas pengeluaran masyarakat semakin dominan alokasi belanjanya untuk pangan. Di lain pihak, kian tinggi kelas pengeluarannya kian tinggi besar pula proporsi belanjanya untuk konsumsi bukan makanan. Jenis makanan yang dikonsumsi juga berbeda. Semakin rendah kelas pengeluaran, cenderung semakin dominan jenis padi-padian umbi-umbian yang dikonsumsi. Dalam kelompok pengeluaran untuk non-makanan, terjadi gejala sebaliknya. Semakin tinggi pengeluarannya semakin besar proporsinya secara umum, dan secara spesifik untuk berbagai Janis pengeluaran non-makanan tertentu.

 

1.4  Tabungan Masyarakat

  Tabungan adalah bagian dari pendapatan dapat dibelanjakan (disposable income) yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Ini merupakan tabungan masyarakat. Tabungan pemerintah adalah selisih positif antara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin. Kedua macam tabungan ini membentuk tabungan nasional, merupakan sumber dana investasi.

    Kendati pada dasarnya semua sisa pendapatan yang tidak dikonsumsi adalah tabungan, namun tidak seluruhnya merupakan tabungan sebagaimana yang dikonsepsikan dalam makro ekonomi. Hanya bagian yang dititipkan pada lembaga perbankan sajalah yang dapat dinyatakan sebagai tabungan, karena secara makro dapat disalurkan sebagai dana investasi. Sisa pendapatan tidak dikonsumsi yang disimpan sendiri (istilah umumnya celengan) tidak tergolong sebagai tabungan.

    Perkiraan jumlah tabungan masyarakat Indonesia memang tidak ditaksir melalui cara sebagaimana diusulkan tadi. Biro Pusat Statistik menaksirnya melalui selisih antara tabungan nasional dan tabungan pemerintah. Yang terakhir ini relative lebih gampang dihitung mengingat catatan administratifnya cukup tersedia. Angka tabungan nasional sendiri merupakan hasil penaksiran pula, yaitu PDB dikurangi Nilai Konsumsi Akhir Sektor Rumah Tangga dan Sektor Pemerintah, ditambah Pendapatan Netto Faktor Produksi terhadap Luar Negeri. Jadi, karena kesulitan teknis penafsiran, metodologi perhitungannya dibalik. Bukannya tabungan masyarakat ditambah tabungan pemerintah menghasilkan tabungan nasional, melainkan tabungan nasional dikurangi tabungan pemerintah menghasilkan tabungan masyarakat. Kepraktisan metodologis semacam ini tentu saja merupakan kelemahannya.

    Tabungan masyarakat bersama-sama tabungan pemerintah dan dana dari luar negeri merupakan sumber pembiayaan investasi. Dalam rangka menggalakkan peran serta masyarakat dalam pembangunan, tabungan masyarakat senantiasa diupayakan untuk terus meningkat.

 

1.5  Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan

    Fungsi konsumsi dan tabungan adalah sebuah fungsi yang menggambarkan hubungan tingkat konsumsi dan tabungan dengan pendapatan nasional dalam perekonomian. Dalam teori makro ekonomi dikenal berbagai variasi model fungsi konsumsi. Fungsi konsumsi yang paling dikenal dan sangat lazim digunakan dalam perhitungan-perhitungan makro ekonomi, yaitu fungsi konsumsi Keynesian. John Maynard Keynes menyatakan bahwa pengeluaran konsumsi masyarakat tergantung pada (berbanding lurus dengan) tingkat pendapatannya. James S. Duesenberry mengusulkan model lain. Berkaitan dengan hipotesisnya tentang pendapatan relative, ia berpendapat tingkat pendapatan yang mempengaruhi pengeluaran konsumsi masyarakat bukan tingkat pendapatan efektif, maksudnya pendapatan rutin yang secara factual diterima, tapi oleh tingkat pendapatan relative. Milton Friedman mengajukan model pendapatan yang menentukan besar kecilnya konsumsi adalah tingkat pendapatan permanen. Tentu saja, selain tingkat pendapatan sebagai variable pengaruh utama, terdapat kemungkinan beberapa variable lain turut mempengaruhi besar kecil pengeluaran konsumsi masyarakat. Dari sudut tinjauan kebaikan suai (goodness of fit) model ini cukup memadai. Model ini mengandung korelasi serial (otokorelasi) negative. Fungsi tabungan dipengaruhi oleh empat factor atau variable. Keempat factor atau variable tersebut yaitu pendapatan, suku bunga, inflasi, dan penerimaan ekspor. Model ini tidak otokorelatif.

# Fungsi Konsumsi

Dikutip dari buku Perekonomian Indonesia (Suatu Tinjauan Konseptual), fungsi konsumsi adalah fungsi yang menunjukkan hubungan besarnya konsumsi dengan pendapatan, yang mana besarnya konsumsi tergantung pada besarnya pendapatan nasional.

Bentuk dari fungsi konsumsi ialah sebagai berikut:

  C = a + bY

Keterangan:

C: Konsumsi rumah tangga

a: Konsumsi otonom (besar konsumsi pada pendapatan nasional = 0)

b: Koefisien dari variabel Y/ slope kemiringan garis b.

Y: Pendapatan nasional.

# Fungsi Tabungan

Menurut Dewi Rossalia, M.Pd., fungsi tabungan adalah suatu fungsi yang menggambarkan hubungan antara tingkat tabungan rumah tangga dengan pendapatan nasional dalam perekonomian.

Fungsi tabungan memiliki bentuk sebagai berikut:

  S = -a + (1-b)Y

Keterangan:

S: Tabungan rumah tangga

a: Konsumsi rumah tangga (besar pendapatan nasional = 0)

b: Kecondongan konsumsi marginal (MPC)

Y: tingkat pendapatan nasional